Belajarlah!Rasa Solidaritas dalam Perbedaan Supir Ojek Online

url img

Ada pemandangan yang berbeda di depan gedung kantor saya hari ini Senin (13/3). Ada empat orang pria berjaket Go-Jek berdiri di trotoar. Salah satunya membawa kotak bertuliskan “Donasi untuk Supir GRAB”. Usut punya usut, ternyata itu adalah sumbangan untuk supir Grab Bike yang ditabrak oleh supir angkot di daerah Tangerang beberapa waktu lalu. Kabarnya, hingga saat ini, keadaannya masih kritis.

Karena rasa penasaran, saya memutuskan untuk mengobrol sebentar dengan para supir tersebut. Mereka pun bercerita bahwa gerakan solidaritas ini merupakan inisiatif para supir saja. Bukan gerakan dari perusahaan. Saat mendengar kabar duka mengenai supir Grab Bike di Tangerang, komunitas supir Go-jek di Jakarta memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan di lokasi pangkalan mereka masing-masing.

“Kami dari pangkalan Satrio (Jl. Profesor Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta). Nah ada juga yang dari Pasar Minggu, Jakarta Barat, dan yang lain,” Ujar Nirwan, salah satu dari empat supir Go-Jek yang saya temui.
Keempatnya sudah meminta sumbangan sejak pukul 12.00 WIB, rencananya mereka akan terus meminta donasi hingga pukul 16.00 WIB, lalu tim lain akan menggantikan hingga malam. Pengumpulan donasi ini akan terus mereka lakukan hingga hari Rabu (15/3) 2017. Keempatnya rela mengorbankan waktu kerja demi membantu korban. Padahal tak satupun dari mereka yang mengenal korban secara langsung. “Ini rasa sepenanggungan aja, nggak masalah lah nggak kerja beberapa jam, demi beramal” Ujar supir lain yang bernama Lukman.
Hal lain yang membuat penasaran adalah, mereka tak mengenal korban, bahkan kerja di perusahaan ojek online yang berbeda. Namun mereka rela meluangkan waktu dan rezeki mereka demi membantu korban. Bahkan aksi yang mereka lakukan tak tersorot media sama sekali, murni demi beramal. Kok mau?
“Yang bersaing biarlah perusahaan, mba. Kami kalau di jalan, di lapangan, ya semua saudara. Rezeki itu sudah ada yang mengatur, nggak akan mungkin tertukar,” Ujar Lukman lagi.
Sesaat saya tertegun mendengar jawaban mereka. Profesinya sebagai tukang ojek mungkin tak membuat orang berpikir untuk meminta pendapat, apalagi belajar soal kehidupan kepada mereka. Tapi hari ini mereka sudah mengajarkan saya untuk lebih menghargai dan menerima perbedaan. Mereka tak membiarkan perbedaan menghalangi mereka untuk berbuat baik, untuk berbagi, untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Karena tak ada habisnya jika seseorang mau mencari perbedaan. Tapi saya yakin, dunia akan menjadi lebih baik, jika semua orang dapat menghargai perbedaan tersebut, dan menemukan persamaan, sekecil apapun itu.
Untuk Anda yang masih sibuk meributkan perbedaan,shame on you!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s