Ini Yang Terjadi Saat Kita Ketakutan

url img

Columbus- Bagi banyak orang, musim gugur identik dengan musim yang menakutkan. Selain bertepatan dengan perayaan Halloween, cahaya matahari yang datang akan berkurang, suhu mendingin, dan dedaunan mulai meranggas.

Kondisi tersebut bisa bikin bulu kuduk berdiri. Tapi mengapa hal-hal tertentu menjadi menakutkan? Apakah ada penjelasan ilmiah di baliknya?
Pengaruh budaya dapat menyebabkan seseorang menjadi takut akan sesuatu, seperti kucing hitam atau badut. Namun, menurut Katherine Brownlowe, Kepala Divisi Neurobehavioral Health dari Ohio State University Wexner Medial Center, ternyata ada pemicu universal akan rasa takut.
“Yakni hal-hal yang bisa membuat Anda mati,” ujar Brownlowe, seperti dikutipLive Scienceedisi akhir pekan lalu. “Contohnya petir, laba-laba, atau ancaman dalam kegelapan. Rasa takut termasuk mekanisme bertahan hidup.”

Ketika panca indra mendeteksi sumber stres yang mungkin menimbulkan ancaman, otak akan mengaktifkan pancaran reaksi yang membuat kita berpikir untuk bertarung atau melarikan diri secepat mungkin. Pada mamalia, reaksi ini disebutfight-or-flight response.
Rasa takut diatur bagian otak dalam lobus temporal yang dikenal dengan amigdala. Ketika stres, amigdala akan aktif dan mengalihkan pikiran kita kepada rasa takut tersebut.
Walhasil, tubuh langsung mengalihkan semua energi untuk bersiap menghadapi ancaman apa pun.
“Pelepasan zat kimia pada saraf dan hormon menyebabkan peningkatan denyut jantung dan pernapasan,” ujar Brownlowe. Proses tersebut lantas melangsir darah dari usus dan mengirimkannya lebih banyak ke otot-otot di seluruh tubuh.
Ketika rasa takut menyerang, rambut pada tangan dan kaki kita berdiri. Dunia modern mengenalnya sebagai fenomena “merinding”. Tapi, menurut legenda dari berbagai belahan dunia, saat itu terjadi, nenek moyang kita akan menepuk-nepuk bagian rambut tersebut agar membuat mereka terlihat lebih besar dan memberi kesan lawan yang tak kasat mata.

Membeku di tempat merupakan respons dari rasa takut pada hewan mamalia, seperti yang terjadi pada rusa saat melihat predatornya. “Inilah yang membuat para predator akhirnya semakin merasakan kehadiran hewan buruannya,” ujar Joel Berger, pakar konservasi kehidupan liar dari Wildlife Conservation Society (WCS) di New York.
Meski demikian, menurut Berger, sebetulnya respons emosional yang muncul bersama rasa takut menambah kewaspadaan serta menjaga tubuh dan otak tetap berfokus pada ancaman.
Pada bayi, respons terhadap rasa takut akan muncul dari suara keras, gerakan tiba-tiba, dan wajah asing. Adapun pada anak-anak, rasa takut muncul terhadap hal-hal yang bersifat imajinatif, seperti raksasa di kolong tempat tidur.
Perbedaan rasa takut antara manusia dan hewan, menurut Brownlowe, adalah manusia dapat mengontrol rasa takut dalam kondisi sadar. “Kita bisa menilai kembali situasi di sekitar dan akhirnya mengetahui bahwa kita hanya perlu melawan atau lari,” ujarnya. “Sedangkan pada hewan, rasa takut sangat berhubungan dengan insting.”
Beberapa orang bahkan sengaja mencari pengalaman yang menakutkan dengan cara menonton film horor, naikroller coaster, dan melakukan cara lain. Menurut Brownlowe, orang-orang seperti itu menikmati rasa takut bak orang kecanduan narkotik. “Mereka akan bahagia setelah hasrat ketakutan mereka terpenuhi,” ucapnya.
Saat rasa takut mereda, otak biasanya merilisneurotransmitterdan hormon yang dapat membuat sistem tubuh beristirahat. “Denyut jantung turun, pernapasan melambat, rasa merinding mulai mereda. Ada rasa lega kognitif dalam tubuh,” kata Brownlowe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s