Fakta Misteri di Balik Foto Presiden Sukarno Memeluk Jenderal Sudirman

url img

Kita tentu cukup akrab dengan foto saat Presiden Sukarno memeluk Jenderal Soedirman di Istana Yogyakarta. Dalam foto itu, Soedirman setengah membungkuk ketika Sukarno memeluknya. Tangan kirinya menekan tongkat ke lantai untuk menyangga tubuhnya. Panglima besar itu mengenakan jubah panjang dan ikat hitam kepala, pakaian khasnya.

Foto hitam putih itu cukup fenomenal karena menunjukkan keengganan Soedirman dipeluk Sukarno. Dia kesal setelah Sukarno memilih menyerahkan diri kepada Belanda untuk diasingkan ke Bangka. Sementara dirinya tetap bergerilya di hutan belantara di tengah penyakit parah yang mendera.
Disamping soal cerita dibalik foto itu, foto itu ternyata menyimpan sebuah misteri. Adegan Sukarno memeluk erat Soedirman itu terdapat dalam dua versi, yakni dari buku berjudul “Lukisan Revolusi Rakjat Indonesia 1945-1949” yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1950 dengan foto dari buku lain yang berjudul “Mengenang Almarhum Panglima Besar Jenderal Sudirman” yang ditulis S. Sulistyo Admodjo pada 1990.

Meskipun sama-sama dipeluk Sukarno, ternyata latar belakang dua tokoh itu yang tengah dipamerkan adalah istri Soedirman yang berdiri dengan kebaya. Suasana pun terlihat gelap. Sedangkan foto pada buku karya Sulistya, latar belakang keduanya adalah Supardjo Rustam. Suasana pun terlihat terang benderang.
Kedua foto itu bisa kita saksikan dalam Pameran Reproduksi Foto “Mengenang Djogjakarta Ibukota RI” (4 Januari 1946-28 Desember 1949) di Bentara Budaya Yogyakarta, yang dibuka pada Kamis, 11 Agustus 2016 hingga 20 Agustus 2016 mendatang.

“Meskipun momentumnya sama (menyambut kedatangan Sudirman usai bergerilya di Yogyakarta), tetapi diambil dalam waktu yang berbeda,” kata Hermanu, pengelola Bentara Budaya Yogyakarta.
Pengambilan gambarnya diduga dilakukan berkali-kali. Kemungkinan oleh fotografer yang sama dan tidak menutup kemungkinan berbeda.
“Bung Karno sepertinya enggak mantep,” kata Hermanu sambil membuka buku karya Sulistyo.

Misteri lainnya adalah foto Sukarno yang tengah membopong seorang bocah. Hartini, istri Sukarno berdiri disampingnya sembari membopong seorang bocah perempuan. Foto itu diabadikan di Yogyakarta. Sepengetahuan Hermanu, anak-anak Hartini berkelamin laki-laki yang bernama Topan dan Bayu. Kemudian, anak-anak perempuan siapakah yang mereka bopong itu? Siapakah bocah-bocah itu? Megawati-kah yang diketahui lahir pada 1947? Di manakah Fatmawati, si ibu negara?

“Dugaan saya, Fatmawati sedang hamil tua,” kata Hermanu.

Sayangnya, foto-foto yang dipamerkan yang merupakan hasil reproduksi dari foto dalam buku “Lukisan Revolusi Rakjat Indonesia 1945-1949” itu tidak terdapat ketahunnya. Yang bisa diprediksi, foto-foto itu dibidik antara 4 Januari 1946 – 28 Desember 1949 saat ibukota negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Lantaran hasil repro dari ukuran kecil ke ukuran besar dengan teknik scan, banyak foto yang dipamerkan terlihat pecah atau kabur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: